Kamis, 13 Agustus 2020

Abrasi di Eretan

Sumber : https://bit.ly/2Y0JzZc


  Masalah abrasi tentu saja bukan sembarang masalah. Tapi entah kenapa, justru mendapat perhatian yang ala kadarnya. Eretan, Indramayu. Dulu disana banyak sekali pengunjung dari luar kota. Tentu saja letaknya yang strategis di daerah pantura, yang dilewati oleh para pemudik saat musim lebaran maupun liburan, menjadikannya dikenal. Tapi, lain dulu lain sekarang. Jika 7 tahun lalu, mungkin pengunjung masih berkesempatan melihat pemandangan yang indah. Disertai makanan khas pantai. Masih banyak bebatuan, yang bagi anak kekinian bisa menjadi objek fotografi yang lumayan. Tapi? Sekarang bebatuan itu bagai hilang ditelan bumi. Dan kenyataan yang terjadi, memang bebatuan itu ditelan. Ditelan oleh air laut. Tergerus oleh ombak yang kian mendekat. 

Dengan kondisi seperti itu, tidak mengherankan jika pengunjung langsung menurun drastis. Dan hal ini tentu saja berimbas pada para pemilik restoran.

Dulu, selain terkenal dengan wisata pantainya, Eretan juga terkenal sebagai tempat penghasil garam. Sampai ada bercandaan. Kuliah? Kuli uyah ning Eretan (Kuliah, Kuli garam di Eretan, red).  Tapi, sekarang bagaimana bisa menghasilkan garam, jika tambak garamnya saja sudah habis tergerus ombak? 

Namun kini itu semua hanya tinggal sejarah. Banyak para kuli garam ataupun pemilik tambak garam di Eretan yang beralih ke pekerjaan lain.  Sebut saja Munari. Dia kini menjadi petani padi karena sudah atidak mungkin memproduksi garam. “Dulu, kualitas garam di sini cukup bagus, jumlah produksi juga masih bisa diandalkan untuk memasok Kota Bandung, Jakarta, Sumedang, Majalengka, Kuningan, tapi sekarang lahan pertanian garam sudah terkikis habis oleh abrasi,” katanya. 

Dan sebagai solusinya, ketua DPRD Indramayu Taufik Hidayat menyatakan bahwa solusi untuk mengatasi abrasai yang cukup parah ini adalah dengan membangun breakwater yang cukup kuat untuk menahan air laut, serta sering melakukan pengerukan dimuara yang dangkal. 



EmoticonEmoticon