Kamis, 13 Agustus 2020

Salah Jurusan? Itu Tantangan!

sumber : https://bit.ly/3kN58X4

Aku, mahasiswa yang berasal dari daerah. Saat SMA berkali-kali aku mengangankan kuliah di ibukota kita, Jakarta. Perjalanan aku untuk menjadi mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Jurusan Fisika Prodi Pendidikan Fisika tidaklah mulus, juga tidak terduga. Pasalnya aku yang memang punya bakat dan minat dibidang IPS hanya karena nilaiku yang bagus terdampar di jurusan IPA, membuatku tidak punya kesempatan untuk mengikuti SNMPTN Undangan dengan pilihan IPS (karena untuk SNMPTN Undangan saat itu anak IPA wajib memilih jurusan terkait IPA). Darisitulah aku mulai merantau ke Jakarta, mencoba tes mandiri, dengan pilihan IPC, lebih tepatnya tujuanku adalah Jurusan Hubungan Internasional dan Jurusan Administrasi Fiskal Universitas Indonesia. Namun sayang, aku gagal. Orangtuaku bukanlah orangtua kelas elite yang mampu membiayai anaknya di Universitas swasta macam Trisakti, sehingga aku harus mendapatkan Universitas Negeri. Dan beruntunglah, Universitas Negeri Jakarta masih membuka pendaftaran penerimaan mahasiswa baru. Dengan pasrah aku mengikuti tes tersebut. dan lagi lagi aku ambil pilihan IPC, dengan pilihan : Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Jepang, dan Pendidikan Fisika. Aku sangat tidak berharap saya lolos di pilihan terakhir. Tapi apalah daya. Tanpa disangka, tanpa diduga, aku justru terdampar di Prodi Pendidikan Fisika! 

Oke, begitulah awal ceritanya. Aku salah jurusan! Jika saja aku punya keberanian, mungkin semester 2 saya sudah hengkang seperti teman-teman lainnya. Tapi, aku selalu  berpikir bagaimana perasaan orangtuaku andai aku berbuat begitu? Sungguh, menjalani hari-hari sebagai mahasiswa Pendidikan Fisika itu rasanya macam suruh minum obat 7x sehari. Pahit! Dari awal, aku sudah tidak suka dengan Fisika. Belajar Elektronika itu rasanya empet! Belajar Listrik Magnet bawaanya gumoh. Apalagi saat belajar komputasi dan pemrograman, waduh itu absurd sekali! Tapi, ya begitulah makanan sehari-hari mahasiswa Fisika. 

Tapi, jangan harap aku menyerah! Walaupun saya jatuh bangun sampai terserang tipus dan IP sampai terpuruk hingga 1.6, aku tidak meyerah. Saya justru merasa tertantang. Itu aku buktikan dengan IP yang semakin naik sejak tragedi ‘keterpurukan IP’. Dan ternyata salah jurusan itu membawa manfaat yang lumayan besar. Itu terbukti saat aku  Praktek Keterampilan Mengajar dan kebetulan mendapat kelas IPS. Murid-muridku sangat tidak menyukai Fisika. Amat sangat tidak suka. Dan karena kita memiliki ketidaksukaan yang sama, aku dapat mengerti muridku, dan muridku dapat mengerti aku,saling mengerti  intinya,  membuat kita menjadi dekat. Dan tentu saja hal itu membuat mereka semangat belajar Fisika. Dengan hasil belajar Fisika yang cukup mengagumkan untuk tingkat anak IPS dari sekolah terfavorit di Jakarta. 

Saat kini aku berada dipuncak semester, yang aku rasakan adalah : mengenal fisika nuklir itu indah, belajar fisika matematika itu menakjubkan, merakit rangkaian elektronika itu keajaiban. Aku mungkin bukan mahasiswa yang baik. Aku hanya mahasiswa yang selalu bekerja dibawah deadline.  Meski begitu aku akan menunjukkan pada diri sendiri dan orang lain bahwa salah jurusan bukan berarti salah masa depan. Salah jurusan adalah tantangan. Rasakan bagaiaman bisa bertahan dan bergumul melawan salah jurusan. Karena salah jurusan hanyalah istilah. Tanpa usaha jurusan apapun yang kita ambil akan selalu salah.



EmoticonEmoticon