Kamis, 13 Agustus 2020

Perjalanan Terjal Ahok

 

Sumber : https://bit.ly/3as2AZE

    15 Oktober 2012 Pasangan Jokowi – Ahok resmi dilantik sebagai pasangan pemimpin Jakarta. Masih teringat dengan sangat jelas betapa besar animo masyarakat saat itu. Suasana kampanye pun sangat mengesankan. Masyarakat dari kalangan atas hingga kalangan bawah menjadi tim sukses pasangan Jokowi- Ahok ini. Semua pemberitaan baik cetak maupun elektronik isinya seputar Jokowi-Ahok. Bahkan sampai muncul banyak lagu-lagu kreatif dalam masa kampanye pemilihan gubernur waktu itu. Dan tentu saja tidak ketinggalan seragam trade mark andalan pasukan Jokowi-Ahok, yaitu kemeja kotak-kotak. 

    Awal kepemipinan Jokowi- Ahok, masyarakat Jakarta terlihat sangat cerah sumringah seolah lepas dari belenggu penjajah. Ditambah pula dengan bejibun program yang dijanjikan pasangan Jokowi-Ahok. Program yang terlihat sangat mengagumkan. Masyarakat semakin mengelu-elukan. Decakan kagum dan pujian selalu mereka dapatkan. Pun diberbagai media, tak pernah ada kabar tentang mereka mendapat hinaan, cacian, ataupun makian. Apalagi ditambah dengan The Power of Blusukan ala Jokowi. Duh, masyarakat makin dibuat jatuh hati. 

    Lalu, 20 oktober 2014 Jokowi resmi menjadi Presiden Negara kita, Indonesia. Dan bagaimana dengan nasib Jakarta? Otomatis Ahok pun menggantikan posisi Jokowi sebagai orang nomor satu di DKI. 

    Namun, kondisi disini justru berbalik 180° dahulu mereka menuai pujian, maka sekarang mereka sarat akan hinaan. Jokowi naik tahta, disinilah berbagai polemik dimulai. Mulai dari #saveKPK, #savehajilulung, dan #save lainnya. Intinya kinerja Jokowi disini justru dianggap menurun. Penilaian negatif tentang Bapak Presiden ini banyak sekali bertebaran. 

    Setali tiga uang dengan kondisi Jokowi di tahta Kepresidenan, Ahok yang kini duduk di Singgasana Jakarta pun mendapat banyak kritikan. Apalagi didukung dengan gaya kepemimpinan Ahok yang bisa dibilang cukup kasar dan blak-blakan. Dan kasus Ahok yang terkenal dan masih berkelanjutan hingga sekarang adalah tentang Ahok VS FPI. 

    Seperti baru-baru ini, Ahok larang sembelih kurban disembarang tempat. Dengan adanya larangan seperti itu warga Jakarta terutama umat muslim meradang. Dan tudingan seperti “ Iya, sekarang dunia bakal dikuasai sama orang-orang cina macam dia,”

    Padahal jika mau dipikir lebih dalam larangan Ahok tidak sepenuhnya salah. Bayangkan dengan isu-isu penyakit yang sedang kekinian macam MERS dan sebangsanya, apa ada yang bisa menjamin saat kita memotong hewan kurban dilapangan yang kondisinya tidak terlalu bersih dengan pemotong kurban yang kurang berpengalaman? Pemotongan hewan kurban ditempat yang telah ditentukan tentunya baik untuk kesehatan, dan juga untuk mencegah agar darah hewan kurban tidak dimana-mana. 

    Masih terkait dengan Ahok VS FPI, adapula kasus tentang pelarangan takbir keliling yang dikeluarkan oleh sang Gubernur. Jangankan itu FPI, semua elemen masyarakat Jakarta yang notabene mayoritasnya adalah umat muslim tentu saja langsung menentang larangan tersebut. 

    Sebenarnya, larangan takbir keliling itu tentu saja tidak sepenuhnya salah. Jakarta, tanpa takbir keliling saja sudah macet. Bagaimana jika ditambah dengan takbir keliling? Sudah macet, ditambah para pengemudi mobil yang saling beradu argumen dengan sopir Transjakarta di halte busway, membuat sebagian pihak merasa dirugikan karenanya.  

    Malam lebaran kok malah saling ngotot adu argumen? Dimana esensi dari malam lebaran? Makna takbiran justru terganti dengan huru-hara. Takbir keliling tujuannya tentu saja sangat baik, menyebarluaskan kabar gembira ke segenap umat muslim dipenjuru kota. Tapi, bukankah lebih baik itu dilakukan di masjid, sekaligus mengajak umat muslim memenuhi masjid yang semakin sepi? 



EmoticonEmoticon