Kamis, 13 Agustus 2020

Teror? Atau Modus Penipuan via Telepon?

Sumber : https://bit.ly/3h0uJJC

Aku pulang malam. Ya setelah berjibaku dengan pekerjaan, jiah! Seperti biasa, aku langsung buka agenda, nulis! Tapi hal ihwal penulisan kali ini tidak biasa. Agak agak horor. Ketemu setan?  Bukaaaan. Trus apa? Jadi, begini, smartphone canggihku (yang sayangnya gak didukung kecanggihan yang punya) itu kan dual sim card. Nah, kartu yang satu itu, kartu yang biasa dihubungi orang.  Kartu satunya? Dihubungin setan, eh canda ding! Intinya kartu yang lain itu aku selalu bergonta-ganti provider, menyesuaikan promo yang lagi hot-hotnya, karena emang cuma buat keperluan streaming doang. Dan tuh nomor sama sekali jarang aku pake buat hubungin orang. Seingetku, cuma adek yang sering aku hubungi pake tuh nomor, karena sesama provider bisa SMS dan nelpon gratis. FYI, adekku cewek. Itu dia masalahnya. Si penelpon misterius memiliki suara berat khas laki-laki, dan pake Privat Number. Biasanya sih aku ogah angkat telepon yang begitu, karena mikir, kalo dia serius mau nelpon ngapain nomornya dirahasiakan? Yegak? Tapi, entah kenapa aku refleks angkat tuh telepon misterius. Walaupun aku angkat, aku cuma diem, gak mengeluarkan sepatah katapun. Diujung saluran sana, si penelpon melakukan hal yang sama. Jadilah kita saling bertelepon dalam diam. Sepi. Cuma suara detak jarum jam yang terdengar. Hingga detik ke 34, akhirnya ada suara dari seberang. Sayangnya itu bukan kalimat yang biasa di gunakan dalam bertelepon macam 'halo? Ini A ya? Gue si B'. Bukaaan, bukan kalimat macam itu. Suara yang dia keluarkan hanya berupa desahan atau erangan. Dan horornya, dia melakukan itu selama 27 detik! Bayangkan, 34 detik sepi, lalu 27 detik cuma denger suara erangan gak jelas, tengah malem pula? Ngeri gak sih? 

Oke, mungkin itu belum cukup bikin ngeri, dan cuma aku aja yang parno. Tapi, setelah aku merasakan ngeri dan memutuskan sambungan, apa yang terjadi? Si penelpon menelpon lagi, lagi dan lagi! Akupun langsung komat kamit baca mantra, eh baca doa, seraya menulis artikel ini. 

Jadi, saudara sebangsa dan setanah air, kenapa aku nulis hal macam ini? Aku gak bermaksud curhat semata, tapi disini aku juga mau share tentang kejahatan yang akhir-akhir ini lagi marak, booming, viral, dan apalagi gitu istilahnya. Yups, kejahatan Via telepon! 

Mengutip kata pengamen di bus P98A, jurusan Pulo Gadung – Kampung Rambutan, kejahatan terjadi karena ada kesempatan, waspadalah! Waspadalah!

Zaman makin berkembang. Teknologi semakin canggih. Otak penjahat pun ikut berkembang dan mengalami kecanggihan. Kejahatan sekarang itu sudah semakin kompleks dan plural. kalian sebar berita hoax aja dianggap kejahatan. Kalian becandain dasar negara ato agama apalagi, itu penistaan. Dan penistaan itu Jahadh, sodara-sodara! 

Kembali ke permasalahan, yaitu kejahatan via telepon. Sebenernya, sebelum tragedi Private Number ini, aku pernah (nyaris) jadi korban penipuan. Pasalnya waktu itu aku ditelpon dan dinyatakan menang undian dari Bank XXXX gitu, lah kan aku bukan nasabah di Bank XXX? Tapi, yasudahlah, aku hargai usaha si penipu. Aku nanya-nanya beberapa hal biar terlihat antusias gituu, tapi si penelpon itu bukannya jawab malah ngedumel, marah marah, katanya kalo gak percaya ya udah, rezeki bakal angus. Ayam bakar kali ah pake angus.  Dia pasti penipu junior. Dan itu patut aku syukuri, karena membuat aku pada akhirnya terselamatkan. 

  Lah tapi kasus ini agak aneh. Si penelpon cuma mengerang? Nelpon berkali-kali dan Privat Number pula. Jadi gimana? Apakah penelpon ini masih satu spesies sama penipu junior apa enggak?

Maka akupun nanya mbah gugel, tentang kejahatan via telepon ini. Aku coba runut, dan coba cocokin ama kasusku (mendadak cocoklogi). Dan aku mendapatkan beberapa kasus yang (sepertinya) relevan.

Kasus 1 

Si korban dapat telepon yang mengaku dari sekolah anak korban. Korban dikabari bahwa anaknya jatuh di WC, dibawa ke ICU RS dan dalam keadaan kritis. Kemudian, orang yang mengaku sebagai guru anak korban meminta korban menghubungi seseorang yang katanya membawa anak korban ke RS. Korban pun menelepon orang yang dimaksud. Dan orang tersebut meminta korban untuk menghubungi orang yang katanya dokter. Korban menelpon dokter. Dokterpun kembali menyuruh korban menghubungi nomor lain, apoteker katanya. Saat korban menelpon apoteker, korban diminta untuk transfer uang ke sebuah rekening dengan alasan untuk biaya perawatan anaknya. Korban pun menurut dan akhirnya masuk jebakan Batman .

Jadi, kebayang dooong? Mungkin si Private Number lagi akting kesakitan karena kecelakaan, makanya mengerang. Lalu ada orang yang tiba tiba ngomong, bahwa si pemilik hp baru saja kecelakaan, dan mengatakan bahwa si pemilik hp itu saudara, temen, anak, orangtua, selingkuhan, ato bahkan idola aku. Lalu dia bakal minta aku hubungi kesana kemari, trus aku bakal diminta transfer sejumlah uang untuk biaya RS orang yang jeh katanya saudara, temen, anak, orangtua, selingkuhan, ato bahkan idola aku itu. Bisa jadi kan? Bisa? Bisaaa banget!

Kasus 2

Korban dapet sebuah telepon. Diseberang terdengar suara mengiba minta tolong. Si penelpon terdengar ketakutan dan meminta korban untuk menolongnya dengan transfer sejumlah uang. Si penelpon bahkan tidak menyebutkan nama, tapi korban mau menurutinya dengan mudah, karena korban dalam pengaruh hipnotis lewat telepon.

Sekarang bayangan aku begini, penelpon Privat Number itu mengerang, lalu dia mengatakan bahwa dia baru saja kecelakaan, lalu dia minta tolong, memintaku membantunya dengan mentransfer sejumlah uang. Sambil ngomong, dia melakukan hipnotis via telepon.  Dan akhirnya aku bilang : “Pak saya bantu telepon 199 aja yah? Saya lagi bokek soalnya. Lokasi Bapak dimana?” Hehehe canda ding. Maksutnya bisa aja kan aku langsung iya-in macam korban kasus diatas. 

Pertanyaannya, darimana para penipu itu tahu nomor telepon kita?

Cara Para Penipu Telepon  Mengetahui Nomor Korban.

Ada banyak jalan menuju Roma. Yah ternyata prinsip ini juga yang dipakai para penipu dengan modus penipuan via telepon ini.  Dan berikut adalah beberapa cara yang biasa digunakan oleh para penipu tersebut.

Pertama, dapat nomor kita, para calon korban, dari penjual pulsa di counter-counter. Saat kita isi pulsa, kita pasti menuliskan nomor kita disebuah buku catatan si penjual pulsa. Nah, dari situ penjahat tersebut punya data nomor-nomor hp yang aktif dan bisa dijadikan target penipuan mereka (untunglah belakangan ini aku selalu isi pulsa pake m-banking).
 
Kedua, nomor HP kita diperjualbelikan. Punya tabungan? Punya kartu kredit? Saat kita membuat tabungan, ATM  ataupun kartu kredit, biasanya kita harus mengisi identitas terlebih dahulu. Dari mulai alamat rumah, nama lengkap, nama ibu kandung, pekerjaan, dan pastinya nomor telepon! Harusnya data kita bersifat rahasia, tapi bagaimana bisa bocor? Karena kemungkinan ada saja pegawai yang ‘nakal’ yang menyimpan data pribadi nasabah untuk dijual. 

Ketiga, kalian punya akun sosmed? Ya, akun sosmed seperti Facebook ataupun Jobstreet dan yang lainnya. Di Jobstreet misalnya, disana kalian harus mengisi biodata untuk bisa melamar kerja.  Saat kalian melamar ke sebuah perusahaan otomatis, data kalian akan masuk keperusahaan tersebut, dan seperti cara kedua, ada saja pegawai yang memperjualbelikan data diri anda. 

Cara Terhindar Dari Modus Penipuan Via Telepon 

Pertama, jangan sembarangan posting data diri di jejaring sosial. Jangan saking pen viral dan mendadak seleb kayak kekeyi jadi tebar-tebar info personal. Viral belom tentu kena tipu iyak.

Kedua, kenali ciri-ciri telepon berbau penipuan. Biasanya para penipu tersebut sering menggunakan modus sebagai berikut :

a. Mama minta pulsa

Ini modus yang paling sering digunakan, dan biasanya lebih sering lewat SMS dibanding panggilan suara. Jika kalian memang bukan penjual pulsa, lebih baik telepon semacam ini diabaikan. 

b. Anak anda akan kami culik dan kami bunuh! 

Modus seperti ini menyerang psikologis korban, dengan merekam adegan kekerasan seperti menendang meja, bantingan benda keras, dan teriakan anak kecil. Karenanya, saat menghadapi modus seperti ini usahakan untuk tetap tenang agar bisa berpikir dengan logis.
 
c. Anak anda kecelakaan, segera kirim uang ke XXX untuk biaya rumah sakit.

Coba pikir, biaya rumah sakit harus ditransfer? Lalu bagaimana anda sebagai walinya? Tentunya sebagai wali anda akan diminta persetujuan dan baru kemudian masalah pembiayaan. Dan bukan saja persetujuan, sebagai orangtua anda pasti diminta untuk datang kerumah sakitnya, sesegera mungkin, bukan untuk transfer uang. 

d. Halo, kami dari pihak Bank XXX, bisa bertemu...

Biasanya jika memang itu dari bank bank besar maka otomatis nama yang tercantum di layar ponsel kalian adalah nama bank tersebut, bukannya nomor pribadi. Jadi, jika menggunakan nomor pribadi, waspadalah. Coba saja anda tanya darimana bisa tahu nomor anda,  dan coba dengar baik-baik bagaimana respon yang diberikan si penelpon. Jika dari perusahaan pasti akan menjawab, tapi jika penipuan, biasanya justru marah marah tidak terima. 

e. Selamat, anda mendapat hadiah sebesar  100 juta potong pajak dari XXX

Ini biasanya melalui SMS, dan biasanya penipu menyertakan sebuah link tertentu, yang dia gunakan untuk meyakinkan calon korban bahwa dia memang memenangkan undian tersebut. Jadi, coba perhatikan baik-baik link yang diberikan tersebut. Biasanya para penipu menggunakan nama perusahaan besar, jadi tinggal cek saja di website perusahaan yang disebut penipu apakah benar ada undian atau tidak. Atau untuk mudahnya, jika link mengandung unsur.blogspot, itu pasti penipuan, karena perusahaan besar tidak akan memakai sebuah blog gratis. 


EmoticonEmoticon